Minggu, 09 Desember 2012

Perkembangan Kemandirian Peserta Didik

A. Pengertian Kemandirian Peserta Didik
Istilah “kemandirian” berasal dari kata dasar “diri” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, kemudian membentuk satu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari kata dasar “diri”, maka pembahasan mengenai kemandirian tidak bisa lepas dari pembahasan tentang perkembangan diri itu sendiri.
Menurut Chaplin (2002), otonomi atau kemandirian adalah kebebasan individu manusia untuk memilih  menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai, dan menentukan dirinya sendiri. Sedangkan menurut Erikson (dalam Monks dkk, 1989), menyatakan kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego yaitu merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri. Kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, dan lain lain. Kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana peserta didik secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain. Dengan otonomi tersebut, peserta didik diharapkan akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengadung pengertian :
a.    Suatu kondisi dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya sendiri
b.    Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi
c.    Memiliki kepercayaan diri dan melaksanakan tugas-tugasnya
d.    Bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya


B. Tingkatan dan Karakteristik Kemandirian Peserta Didik
Sebagai suatu dimensi psikologi yang kompleks, kemandirian dalam perkembangannya memiliki tingkatan-tingkatan. Perkembangan kemandirian seseorang berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan kemandirian tersebut. Menurut Lovinger (dalam Sunaryo Kartadinata, 1988), mengemukakan tingkatan kemandirian dan karakteristiknya, yaitu:
a.    Tingkat pertama, adalah tingkatan implusif dan melindungi diri. Tingkatan ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Peduli terhadap control dan keuntungan yang dapat diperoleh dari interaksinya dengan orang lain.
-   Mengikuti aturan secara spontanistik dan hedonistic.
-   Berfikir tidak logis dan tertegun pada cara berfikir tertentu (stereotype).
-   Cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum games.
-   Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta lingkungannya.
b.      Tingkat kedua, adalah konformistik. Ciri-cirinya adalah :
-      Peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan social.
-      Cenderung berfikir stereotype dan klise.
-      Peduli akan konformitas terhadap aturan eksternal.
-      Bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh pujian.
-      Menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya intropeksi.
-      Perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal.
-      Takut tiadak diterima kelompok.
-      Tidak sensitif terhadap keindividualan.
-      Merasa berdosa jika melanggar aturan.
c.    Tingkatan ketiga, adalah tingkat sadar diri. Ciri-cirinya adalah:
-      Mampu berfikir alternatif.
-      Melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi.
-      Memikirkan cara hidup.
-      Penyesuaian terhadap situasi dan peranan.
-      Menekankan pada pentingnya memecahkan masalah.
d.     Tingkat keempat, adalah tingkat saksama (conscientious). Ciri-ciri nya adalah :
-      Bertindak atas dasar nilai-nilai internal.
-      Sadar akan tanggung jawab.
-      Mampu melakukan kritik dan penilaian diri.
-      Memiliki tujuan jangka panjang.
-      Berfikir lebih kompleks dan atas dasar pola analisis.

C. Pentingnya Kemandirian bagi Peserta Didik
Pentingnya kemandirian dari peserta didik ini dipengaruhi juga dengan semakin kompleksnya kehidupan yang tentunya juga berpengaruh pada perkembangan peserta didik. Pengaruh buruk sudah banyak sekali masuk dan membawa dampak buruk bagi peserta didik, seperti tawuran, seks bebas, narkoba, alkohol, dan lain-lain.
Selain perilaku menyimpang tadi, dewasa ini kerusakan moral pun terjadi seperti budaya mencontek, kurang peka terhadap lingkungan, ketergantungan dan sebagainya. Ini semua tentunya patut menjadi perhatian dunia. Dan solusi yang tepat adalah menanamkan sikap kemandirian pada diri peserta didik.
Dengan kemandirian, peserta didik belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya.
Jika kemandirian sudah tertanam di setiap diri para peserta didik tentunya akan berimplikasi pada pendidikan. Mereka sebagai subjek pendidikan dan mempunyai sikap kemandirian tentunya akan membawa dampak baik bagi masa depan pendidikan. Maka dari itu, kemandirian peserta didik sangat penting untuk ditanamkan.


D. Perkembangan Kemandirian Peserta Didik dan Implikasinya bagi Pendidikan
Kemandirian peserta didik adalah bakat kecakapan yang dimiliki peserta didik, ini sangat berkaitan dengan pendidikan. Oleh sebab itu pendidikan di sekolah perlu melakukan upaya-upaya pengembangan kemandirian peserta didik, diantaranya :
a.    Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis
b.    Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai kegiatan sekolah.
c.    Memberi kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan , mendorong rasa ingin tahu mereka.
d.    Peneriman positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lain.
e.    Menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak.
    Dengan semua itu, maka akan terbentuk pribadi peserta didik yang mandiri. Yang juga implikasi untuk keadaan dunia pendidikan yang akan semakin berkembang.


E. Bentuk-Bentuk Kemandirian
Robert Havighurst (1972) membedakan kemandirian atas empat bentuk kemandirian yaitu:
a.    Aspek Emosi, aspek ini ditunjukan dengan adanya kemampuan untuk dirinya mengatur emosinya sendiri.
b.    Aspek Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan adanya kemampuan untuk mengatur dan mengelola kebutuhan dirinya sendiri secara ekonomis.
c.    Aspek Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
d.    Aspek Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.
Sementara itu , Steiberg  (1993) membedakan karakteristik kemandirian atas tiga bentuk, yaitu :
a.    Kemandirian emosional
b.    Kemandirian tingkah laku ( behavioral autonomy ) .
c.    Kemandirian nilai (value autonomy )
Lengkapnya Steinberg menulis :
The first emotional autonomy-that aspec of independence related to changes in the individual’s close relationship,especially with parent. The second behavioral autonomy-the capacity to make independent decisionis and follow trough with them. The third characterization involves and aspec of independence referred to us value autonomy-wich is more than simply being able to resist preassures to go along with the demands of other, its means having a set a principles about right and wrong, about what is important and what is not.
Kutipan di atas menunjukan karakteristik dari ketiga aspek kemandirian, yaitu  :
a.    Kemandirian emosional yakni aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu,
b.    Kemandirian tingkah laku, yakni suatu kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan tanpa tergantung pada orang lain dan melakukannya secara bertanggung jawab.
c.    Kemandirian nilai, yakni kemandirian memaknai suatu hal tentang benar dan salah, tentang yang penting dan apa yang tidak penting.

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian yaitu:
a.    Proses belajar mengajar yang demokratis,yang memungkinkan anak merasa dihargai.
b.    Dorongan untuk anak agar dia dapat mengambil keputusan sendiri dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah.
c.    Kebebasan anak untuk dapat mengeksplorasi lingkungan mereka agar dapat mendorong rasa ingin tahu mereka.
d.    Tidak adanya diskriminasi antara anak dalam perlakuannya.
e.    Hubungan harmonis antara anak dan orangtua.
f.    Adanya motivasi yang kuat dari diri anak itu sendiri.


G. Upaya Pengembangan Kemandirian
Sesuai dengan fase perkembangannya, upaya pengembangan remaja dapat dilakukan melalui:
a.    Menciptakan proses belajar mengajar yang demokratis sehingga anak merasa dihargai.
b.    Menciptakan komunikasi yang saling terbuka antar anggota keluarga.
c.    Membebaskan anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar agar meningkatkan rasa keingintahuannya.
d.    Menimbulkan komunikasi yang hangat antar anak maupun orangtua.
e.    Adanya kepercayaan kepada anak untuk melakukan apapun yang ia mau, tapi dalam pengawasan orang dewasa.
f.    Menerima segala sesuatu yang ada pada diri anak dari kelebihan dan kekurangannya.

Pendapat Saya:
Kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas dan juga merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri.
Perkembangan kemandirian seseorang berlangsung secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan kemandirian. Karakteristik kemandirian terdiri atas tiga bentuk, yaitu kemandirian emosional; kemandirian tingkah laku; dan kemandirian nilai.


REFERENSI
Baharuddin. 2009. Pendidikan & Psikologi Perkembangan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Baharuddin. 2009. Psikologi Pendidikan: Refleksi Teoretis Terhadap Fenomena. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Dalyono. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hildayani, Rini dkk. 2007. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.
http://jmarwita.blogspot.com/2011/11/pengertian-mandiri.html
Sugandhi, M. Nani & Syamsu Yusuf L. N. 2012. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Related Post